Malang (ANTARA News) - Pada akhir tahun 2009, seluruh desa yang ada di Indonesia ditargetkan bisa terjangkau jaringan telekomunikasi bahkan terkoneksi dengan akses internet.
Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Prof. Dr. M. Nuh,Jumat, mengatakan, dari total desa yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi sebanyak 31 ribu, pada akhir tahun 2009 dan paling lambat awal 2010 semua sudah tuntas jaringannya.
"Paling lambat awal tahun 2010 semua masyarakat pedesaan termasuk desa terpenci sekalipun sudah bisa menikmati jaringan telekomunikasi bahkan internet. Dan mereka juga sudah bisa mengoperasikannya," katanya di sela-sela peresmian akses intranet di rumah pintar Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Menurut mantan rektor ITS itu, untuk menyediakan jaringan (penyambungan) akses telekomunikasi dan internet tersebut disediakan anggaran sekitar Rp2 triliun pada tahun 2009.
Menkominfo berharap, setelah jaringan telekomunikasi tersambung di seluruh desa, yang menjadi pemikiran adalah keterjangkauan bagi masyarakat desa itu sendiri, sebab dari akses internet tersebut masyarakat bisa melakukan transaksi ekonomi antarmasyarakat.
Selain menyiapkan sambungan atau jaringan telekomunikasi, katanya, yang tidak kalah penting adalah isi (content) dari jaringan internet itu sendiri terutama yang berkaitan dengan e-education dan e-health.
Setelah semua desa tersambung dengan jaringan telekomunikasi dan internet, katanya, seluruh desa di Indonesia yang jumlahnya mencapai 72 ribu lebih itu ditargetkan memiliki rumah pintar lengkap dengan semua fasilitas penunjangnya termasuk jaringan internet.
Ia mengakui, saat ini Depkominfo bersama beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) yakni ITB, UI, ITS, Unair dan Unpad serta ITS tengah mengkajia dan meneliti pengaruh internet terhadap sosial, ekonomi dan budaya di lingkungan masyarakat.
Penelitian tersebut, katanya, dalam kurun waktu enam bulan diharapkan sudah tuntas."Mudah-mudahan dalam beberapa bulan ke depan sudah selesai agar hasilnya bisa dijadikan acuan bagi kita untuk mengambil langkah selanjutnya," tegas M.Nuh.
Sumber : Antara
Komentar Mas Guru : Tentunya berita ini menggembiraken seluruh warga repiblik Endonesya. Betapa tidak, kata berita kalo orang yang biasa berinternet itu bisa jadi pandai, mudah berinteraksi dengan seluruh orang dari seluruh dunia dan bisa berstransaksi dengan mudah, cepat dan murah.
Pokoknya, kebijakan Pak Mentri di atas top deh. Tapi, mangsalahnya, apakah perlu melibatkan beberapa PTN untuk menyelidiki dampak internet itu bagi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Bukankah sudah banyak hasil2 penelitian soal itu. Apa nggak sebaeknya PTN itu dilibatken untuk medidik masyarakat ndeso supaya bisa berinternet pada saat internet sudah masuk ndeso. Dan yang lebih penting,bagaimana caranya supaya penduduk ndeso itu bisa membeli internet yang sekarang ini belum begitu murah ?
Sunday, June 28, 2009
Akhir 2009 Seluruh Desa Terkoneksi Internet
Thursday, June 4, 2009
Coret Siswa yang Curangi UN, oh nasib....
Demikian judul berita harian Radar Malang edisi 3 Juni 2009. Isi berita tersebut secara garis besar adalah 3 institusi pendidikan tinggi negeri di Malang akan mencoret nama lulusan SMA yang telah melakuken kecurangan dalam Unas dari daftar PMDK. Karena yang disinyalir melakuken kecurangan ada 33 SMA, maka seluruh lulusan dari ke 33 SMA tersebut 'diharomken' masuk UB, UM dan UIN Maulana Malik Ibrahim.
Berita tersebut tentu cukup menyakitken bagi lulusan ke 33 SMA tersebut. Dan ancaman itu tidak hanya diperuntukken bagi siswa-siswa yang baru lulus doang. Siswa yang akan lulus di tahun-tahun mendatang juga tidak luput dari ancaman tersebut.
Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Yogi Sugito kemarin mengatakan, ada siswa dari dua sekolah itu yang telah diterima di UB melalui jalur PSB (penjaringan siswa berprestasi). Sayang, untuk jumlahnya, Yogi belum tahu pasti. Yang jelas, karena menganggap telah melakukan tindakan tidak jujur, siswa tersebut tetap dicoret. "Bahkan, untuk beberapa tahun ke depan, UB tidak menerima siswa dari sekolah yang melakukan kecurangan itu," tandas pria asal Tulungagung tersebut. (Radar Malang edisi 3 Juni 2009).
Keputusan Pak Rektor UB itu kayaknya perlu dipertimbangken ulang, apalagi jika sampai siswa-siswa yang nggak ikut-ikutan curang - siswa-siswa yang lulus tahun-tahun mendateng - harus terkena getahnya.Harusnya Pak Rektor melihat, apakah dalem kasus kecurangan itu yang paling bersalah itu siswanya, termasuk siswa yang sekarang masih kelas X dan XI ?
Kalo hemat Mas Guru, kesalahan utama adalah pada gagasan unas sebagai satu-satunya ukuran kelulusan siswa. Kalo nggak ada unas, pasti nggak akan ada siswa yang berbuat curang dalam unas. Karena usaha mereka selama 3 tahun hanya dinilai melalui unas yang hanya berlangsung nggak sampai seminggu, ya masuk akallah kalo mereka lantas menghalalken segala cara untuk lulus.
Kesalahan yang kedua ya pada sekolahan yang siswa-siswanya nggak lulus 100 prosen itu. Mana mungkin seluruh siswa melakukan kecurangan secara berjama'ah kalo nggak difasilitasi ? Cuma Mas Guru nggak berani menuduh siapa 'aktor intelektual' yang memfasilitasi tersebut ? Yang jelas, hel yang mustahal kalo pihak sekolah nggak tahu kalo seluruh siswanya melakuken kecurangan secara berjama'ah.
Nah, karena pelaku 'kejahatan ini' banyak unsur yang mungkin terlibat, pantaskah jika hanya siswa doang yang harus menanggung dosa dan sengsaranya ?
Wednesday, May 6, 2009
Kasus Antasari Ashar : Dagelan Atau Kasus Kriminal ?
Dunia begitu terkejut ketika polisi Repiblik Endonesya telah menangkep Bos KPK Antasari Ashar dan segera menetapkannya sebagai tersangka pembunuhan Nasrudin Zulkarnain. Dan secara bersemangat KPK mengusulkan pencopotan Antasari sebagai Bos KPK. Berita-berita miring pun segera bertebaran menghiasi media masa kita untuk ikut-ikutan mengadili Antasari, seolah-olah Antasari sudah bersalah.
Kita seolah melupakan bahwa KPK di bawah Antasari telah berhasil mengungkap kasus-kasus korupsi kelas kakap. Bayangken, besannya SBY aja dia seret ke penjara.Itu semua seolah tidak ada artinya. Masyarakat seolah 'dipaksa' untuk percaya kalo Antasari adalah the Killer.
Dalam situasi yang nggak jelas seperti ini, ada baiknya kita juga menengok apa opini yang berkembang di media-media asing. Karena, menurut Mas Guru, dalam situasi seperti ini bisa jadi mereka lebih objektif. Salah satu contoh yang tidak diangkat oleh media cetak, bahwa menurut pengakuan adik Nasrudin di salah satu televisi, pada saat di bawah ke rumah sakit, selama 12 jam tidak ada tindakan medis diberiken kepada korban. Bahkan,menurut adik Nasrudin, saat itu dikatakan bahwa ICU sejakarta sudah penuh.
Berikut berita Antara yang mengangkat pemberitaan dari media luar negeri :
Dunia Kabarkan Penahanan Antasari Azhar
Jakarta (ANTARA News) - Selain menjadi berita utama pers dalam negeri, kabar penetapan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini nonaktif, Antasari Azhar, menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan direktur satu BUMN, Nasrudin Zulkarnaen, juga diberitakan luas media internasional.
Harian Australia, The Sidney Morning Herald, hari ini, menurunkan judul "Indonesian anti-graft chief arrested for murder" (kepala lembaga anti korupsi Indonesia ditangkap karena pembunuhan), hampir sama dengan koran AS, Washington Post, yang merilis judul "Indonesia anti-corruption chief arrested in murder."
"Antasari Azhar yang memimpin serangkaian penyelidikan tingkat tinggi terhadap para pejabat dan lembaga pemerintah, telah menjadi tersangka namun membantah melakukan pelanggaran hukum," demikian Washington Post yang bersama harian Inggris, The Guardian, mengambil sumber sama dari Associated Press.
Indonesia, demikian The Post dan Guardian, menjadi salah satu negara paling korup di dunia, dan dengan janji pemberantasan korupsi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa memenangkan pemilu tahun 2004.
Dua koran ini melanjutkan, penangkapan para pejabat teras Indonesia oleh KPK telah mempertinggi peluang Yudhoyono untuk kembali terpilih pada Pemilihan Presiden Juli nanti.
Sementara itu mingguan Turki, Turkish Weekly, memberitakan Antasari telah ditetapkan menjadi tersangka karena kasus cinta segitiga yang berujung fatal dan karena satu plot pembunuhan yang dirancang intrik yang dibangun satu elite kekuasaan di Jakarta.
Dari Australia, koresponden Sidney Morning Herald di Jakarta, Tom Allard, mengutip sejumlah sumber, mengungkapkan bahwa Nasrudin telah memberi KPK informasi rinci mengenai kasus suap di perusahaannya sehingga dia mungkin dibunuh sejawatnya di perusahaan dan kemudian memasang perangkap terhadap Antasari.
Tom mewartakan, salah seorang eksekutor pembunuhan diketahui seorang warga Timor Timur yang pernah menjadi anggota milisi pro Indonesia dan sangat terlatih menembak. Selain itu, Tom menyebut hubungan Sigid Haryo Wibisono (SHW), komisaris Harian Merdeka, dengan Antasari.
"SHW adalah orang yang mempromosikan (Antasari) menjadi Ketua KPK. Dialah yang melobi DPR," lapor Tom mengutip Boyamin Saimin, teman Nasrudin.
Koran negara tetangga Singapura, The Straits Times, juga menurunkan berita penetapan Antasari menjadi tersangka dengan judul setengah bertanya, "Love Triangle in Murder Case?" atau "Cinta Segitiga dalam Kasus Pembunuhan?"
Selain mengutipkan keterangan Polri mengenai status Antasari dan ancaman hukuman mati terhadapnya jika Antasari terbukti bersalah, The Straits Times juga menyinggung kemungkinan Ketua KPK ini telah dijebak akibat kasus-kasus hukum tingkat tinggi yang ditangani lembaga pimpinannya.
Kasus ini telah mengeruhkan kembali suhu politik menjelang Pemilihan Presiden Juli nanti dalam mana Presiden Yudhoyono gencar mengampanyekan platform anti korupsi yang keras demi terpilihnya lagi sebagai Presiden RI untuk kedua kali sekaligus masa jabatan terakhirnya, demikian Straits Times.
Sumber : Harian Antara edisi 5 Mei 2009.
Sunday, April 26, 2009
Menjadi Oposisi yang Sehat
Usai pemilu legislatif, setelah semua partai hampir bisa memastiken jumlah perolehan suara yang mereka dapet, maka babak baru drama politik kita dimulai. Sejumlah partai mulai melakuken pendekatan-pendekatan dengan partai laen. Istilah mereka penjajagan kolalisi untuk persiapan pilpres mendatang. Perilaku memuakkan mulai timbul manakala partai-partai yang tidak punya visi sama ternyata bisa saling mepet untuk sekadar berbagi kekuasaan. Artinya, idealisme mereka pun digadaikan demi mendapet kue kekuasaan, yang disekitarnya berhamburan berbagai fasilitas.
Mas Guru jadi berpikir ternyata garis dan misi partai yang mereka gembar-gemborken selama pemilu legislatif kemaren hanya nggedobos alias nggedabrus. Bukan membela kepentingan rakyat yang mereka perjuangken, tapi kekuasaanlah yang mereka kejar.
Mestinya partai-partai yang diperkiraken ndak bisa menang di pilpres nanti ndak perlu mepet-mepet ke 'calon pemenang pilpres' jika saja mereka ndak kemaruk kekuasaan, apalagi jika visi dan garis perjuangan partainya ndak sama. Barangkali akan lebih gagah kalo mereka ini menyiapken diri menjadi partai oposisi yang nanti berperan sebagai kontrol bagi pemerintah. Ini akan lebih baek bagi kesehatan kehidupan negara kita.
Itulah inti dari gagasan yang dikemukaken oleh Jafar M. Sidik di harian Antara edisi Minggu, 26 April 2009.
Parpol Semestinya Juga Siap Menjadi Oposisi
Jakarta (ANTARA News) - Dari rangkaian manuver elite politik pada pekan-pekan terakhir setelah Pemilu Legislatif 2009 dilaksanakan, hanya sedikit partai politik yang berani menyiapkan skenario menjadi oposisi.
Yang justru mendominasi ruang publik adalah menyeret publik untuk bersetuju pada hanya pendekatan dan laku pragmatis nan seragam elite bahwa demokrasi dan kekuasaan itu melulu tentang memerintah.
Padahal, efektivitas politik tidak melulu dipahami dari sisi eksekusi kekuasaan yang adalah ranah eksekutif, namun juga bertalian dengan sistem pengawasan dan pilihan-pilihan dari fungsi legislatif sehingga eksekutif berada di relnya.
Untuk itu pula, mungkin menjadi tak terlalu tepat menyebut keberhasilan nasional sebagai hanya capaian eksekutif karena kontrol oposisi di parlemen juga berperan dalam membuat kebijakan menjadi lebih tepat sasaran dan terminimalkannya potensi penyimpangan.
Mengutip Gerald Schmitz dalam "The Challenge of Democratic Development: Sustaining Democratization in Developing Societies," oposisi akan menjamin keabsahan sistem demokrasi secara keseluruhan, selain menjaga pemerintah tidak keluar dari pakemnya, diantaranya konstitusi.
Gerald menyatakan, oposisi yang efektif akan menjamin hadirnya pemerintahan yang kuat, tetapi tentu saja bukan oposisi yang asal mengkritik kebijakan pemerintah.
Dalam kaitan ini, teorisi politik Waldemar Besson dan Gotthard Jasper menyatakan, kehadiran oposisi adalah untuk mencegah kelompok penguasa mengidentikan diri sebagai negara dan memaklumatkan bahwa tafsir penguasa mengenai kepentingan publik sebagai satu-satunya yang berlaku di masyarakat.
Dalam "Das Leitbild der Modernen Demokratie" terbitan 1965, kedua ilmuwan politik Jerman ini menyatakan, oposisi berperan dalam mendewasakan kehidupan politik lewat perannya sebagai kekuatan pencegahan, kekuatan alternatif dan pengawas sistem kebijakan.
Sebagai pencegahan, oposisi berperan dalam menghindari manipulasi kekuasaan dan mencegah kebebasan yang kebablasan berubah menjadi anarki dan despotis, sedangkan sebagai kekuatan alternatif, oposisi memberi rakyat pilihan-pilihan manakala sistem eksekusi kebijakan yang sedang berlaku tidak lagi menyuarakan mayoritas.
Fungsi terakhir, pengawasan dan supervisi pemerintahan, berarti bahwa oposisi berkemampuan mempengaruhi proses legislasi sehingga produk hukum didedikasikan untuk semua lapisan karena semua kesepakatan mengenai pensahan prodil hukum, membutuhkan persetujuan oposisi.
Fungsi terakhir ini bahkan memungkinkan kritik dan argumentasi yang disuarakan oposisi berperan penting dalam mencegah kebijakan yang diambil pemerintah tidak menjadi terkesan partisan.
Mendewasakan
Dari pandangan itu, adalah baik bagi parpol untuk mengajari publik bahwa kekuasaan efektif, pemajuan bangsa dan pendewasaan politik itu berkaitan dengan hadirnya oposisi yang kuat. Kekuasaan dan demokrasi yang berkualitas itu mensyaratkan hadirnya oposisi yang kuat.
"Semua pemerintahan memerlukan oposisi yang kuat," kata politisi terkenal Australia, Bob Carr, seperti dikutip AAP 16 Juni tahun lalu.
Perpolitikan Korea Selatan, Taiwan, Inggris, Jerman dan hampir semua negara Uni Eropa termasuk Turki, bahkan Brazil, menunjukkan bahwa oposisi yang kredibel dan berani menawarkan alternatif adalah jaminan bagi perkuatan politik madani dan masyarakat yang tercerdaskan sikap politiknya.
Hasil Pemilu Legislatif 9 April lalu sendiri, terlepas klaim sejumlah kalangan bahwa pemilu berlangsung curang, menunjukkan bahwa kedewasaan politik publik bertambah besar.
Meski lebih merupakan jawaban terhadap laku dan manuver pelaku politik selama ini, pada beberapa hal perpolitikan nasional mampu mendewasakan publik di mana orang kini berani mengoreksi jalannya perpolitikan lewat perubahan pilihan.
Fakta bahwa rakyat lebih memilih selibritis dan lambang partai --karena kuatnya asosiasi partai dengan tokoh atau sentimen kelompok-- bisa dianggap sebagai kritik terhadap fungsi parpol dan kelembagaan politik yang gagal menawarkan tokoh berkompetensi tinggi dan jika ada pun gagal dikomunikasikan kepada publik.
Dengan asumsi komposisi suara hasil pemilu konstan, maka terlihat ada peningkatan kedewasaan memilih, tetapi di sisi lain ada kecenderungan stagnasi dan bahkan degradasi kualitas politik, tak hanya menyangkut output tapi juga proses.
Saat hendak ditarik ke pragmatisme --diantaranya dengan maklumat berulang-ulang bahwa politik itu dinamis yang justru dipahami publik sebagai upaya menutup hasrat berburu kekuasaan-- sebagian besar rakyat malah menolaknya.
Fenomena tidak terpilihnya caleg yang hanya mengandalkan uang sehingga hanya menunjukkan kekerdilan berpolitik karena tanpa malu bantuan ditarik lagi begitu mengetahui suara tidak cukup, adalah bukti bahwa rakyat mehamami dan membaca apa yang bakal mereka dapatkan dari pilihannya.
Mereka kini tidak lagi memilih hanya untuk kepentingan satu dua hari, tetapi untuk keselamatan sosial, ekonomi dan politik jangka panjang mereka. Mungkin, tingginya angka golput berelasi dengan tumbuhnya pandangan kritis mengenai relevansi pilihan dengan jaminan masa depan itu.
Dalam kerangka ini pula, tidak berlebihan jika sekaranglah masanya bagi parpol dan elite politik untuk menunjukkan, meyakinkan dan makin mencerdaskan publik bahwa demokrasi adalah perpaduan antara kritik dan kerja, antara pengawasan dan mengeksekusi kebijakan, antara oposisi yang kredibel dan pemerintahan yang kuat.
Publik mesti diajak memahami bahwa, baik berkuasa maupun menjadi oposisi, adalah sama pentingnya dalam kerangka pemajuan kehidupan berdemokrasi.
"Menjadi oposisi, memperkuat kelembagaan di DPR, tidak kalah terhormat dengan menjadi lembaga eksekutif," kata Yudi Chrisnandy, kader Golkar, di sela rapat pimpinan nasional khusus Partai Golkar seperti dikutip Kompas.com, Kamis (23/4).
Friday, March 13, 2009
Misteri di Balik Kematian David Lagi
Misteri Kematian Mahasiswa RI di Singapura, Prof Chan Ingin Rebut Temuan David
TIBA-tiba muncul pikiran licik dari sang professor. Dia menyuruh David menyempurnakan lagi penelitiannya dan membawanya kembali. Baginya, David bagai tambang emas yang akan membuatnya kaya dan terkenal. Ia mulai berpikir merebut hasil penelitian luar biasa itu. David tak menyadarinya. Dia semakin bersemangat mendalami penelitiannya.
Ketika David kian serius menyelesaikan penelitiannya, Prof Chan mulai sibuk mencari orang yang bisa jadi saksi penelitian David untuk diakui sebagai miliknya. Dia membuka file dokumentasi para mahasiswa berprestasi. Ia teringat pada Zhou Zhang (24), asisten dosen yang diberhentikan dari kampus itu.
Zhou sangat gembira saat Prof Chan mengangkatnya sebagai asisten peneliti. Apalagi ibunya di Cina sedang sakit kanker dan butuh biaya berobat. Prof Chan bahkan menawarkan bantuan biaya pengobatan.
Di tempat lain, David sudah menyelesaikan penelitiannya. Lantaran gembira, dia mentraktir Angel makan di sebuah restoran hotel yang mahal. Angel terheran-heran. “Hehehe.. Tenang saja. Ini hanya sebagai bentuk perayaan. Kelak saya akan ajak kamu ke tempat yang lebih hebat lagi,”janji David.
Keesokan paginya, Prof Chan sudah mengingatkan David untuk membawa semua dokumen proses berjalannya penelitiannya dalam USB agar ia bisa meneliti langsung kelayakannya. Awalnya, David agak bingung, tapi Prof Chan meyakinkan bahwa ia hanya ingin mencoba dengan caranya agar penelitian David dianggap sah. Tanpa pikir panjang, David menyerahkan hasil penelitian itu dalam bentuk USB. Dia tiba di kampus pagi sekali, pukul 7, sesuai jadwal yang ditentukan Prof Chan.
Sebelum berangkat David mengirimkan pesan kepada Angel untuk bertemu di kampus, makan siang bersama.
***
Ketika tiba di lantai 4, David melihat Prof Chan sedang duduk, sehabis memotong apel. Profesor menyimpan pisau ke saku bajunya. David tak sadar sedang masuk jebakan. Setelah menerima USB, tiba-tiba Prof Chan berkata, “David, apakah kamu yakin ini penelitian kamu?” David menjawab, “Ya, tentu saya yakin. Memang kenapa Prof?”
“Apakah kamu tidak sedang mengambil penelitian seorang mahasiwa lain bernama Zhou? Dia adalah asisten dosen yang sudah dipecat. Ada kemiripan antara penelitian kamu,” tuding Prof Chan.
David terhenyak. “Mustahil..!” ucap David kesal. Kemudian Prof Chan menunjukkan dokumen di komputernya. David benar-benar tak percaya. Dia merasa tak mungkin ada orang lain punya pikiran sama persis dengan dirinya.
Prof Chan mulai menghina dirinya, bahwa masih banyak orang jenius di dunia. David mulai menyadari ada yang tak beres. Dia meminta kembali USB itu, tapi Prof Chan bertanya, “Untuk apa?” David bilang, “Saya ingin dikembalikan saja.”
Prof Chan menolak. Kata dia, USB itu akan dijadikan barang bukti bahwa David telah melakukan pelanggaran, menjiplak karya orang lain sebagai skripsinya. “Silakan saja. Saya tak takut. Saya akan buktikan itu tidak benar..!” tantang David sambil hendak keluar ruangan.
Melihat David tidak takut pada ancamannya, Prof Chan mengubah strategi. Dia menawarkan opsi lain berupa uang dalam jumlah banyak. David tetap menolak. Prof Chan emosi dan menghunuskan pisau ke punggung David. David berteriak minta tolong. Suaranya terdengar oleh Zhou yang akan memulai kerjanya hari itu.
David yang terluka, berusaha melawan. Tapi sebuah sabetan lagi mengenai lehernya. Dia tersungkur. Dengan tubuh berlumur darah, David membuka pintu dan keluar. Zhou berdiri tepat di depan pintu. Dia sangat terkejut. David terus berlari. Sempoyongan. Akhirnya terjatuh dari balkon lantai 4 dan langsung tewas.
Zhou sangat syok. Tapi Prof Chan memerintahkan dia masuk ruangan dan bertanya, “Kamu melihat semuanya?”Zhou membantah. Prof Chan mengancamnya, sehingga dia pun berjanji akan tutup mulut. Profesor licik itu memerintahkan Zhou menusuk punggungnya menggunakan pisau. Zhou menurut saja. Tusukan itu hendak dijadikan alibi seolah-olah David telah menyerangnya. eddy mesakh/tribun Batam
Sumber Surya
Komentar Mas Guru : ternyata propesor juga manusia, punya sikap licik,culas dan kejam. Kayak manusia laen yang ndak pernah makan sekolahan.
