Showing posts with label Opini Mas Guru. Show all posts
Showing posts with label Opini Mas Guru. Show all posts

Sunday, June 2, 2024

Tapera: Mimpi Rumah atau Mimpi Buruk?

Hei Sobat ! Kembali lagi bersama Mas Guru  dengan isu terkini. Kali ini, kita mau bahas program baru pemerintah yang bernama Tapera, singkatan dari Tabungan Perumahan Rakyat.

Singkatnya, Tapera ini adalah program pemerintah untuk membantu rakyatnya memiliki rumah impian. Caranya, dengan menyisihkan sebagian gaji kita (sekitar 3%) untuk ditabung dan nanti bisa digunakan untuk membeli rumah, renovasi, atau bahkan pensiun.

Sekilas, program ini memang terdengar mulia. Siapa sih yang gak pengen punya rumah sendiri? Tapi, tunggu dulu Sobat, jangan buru-buru tergoda. Program ini masih banyak menuai pro dan kontra, lho.

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah beban keuangan. Di tengah situasi ekonomi yang masih belum stabil, menyisihkan 3% gaji mungkin terasa berat bagi banyak orang. Apalagi, kita masih ingat kontroversi kenaikan UKT PTN yang dibatalkan karena penolakan masif dari masyarakat. Pertanyaannya, apakah rakyat sudah siap dengan beban baru ini?

Kekhawatiran lainnya adalah kepercayaan terhadap pemerintah. Jujur saja, masih banyak rakyat yang ragu dengan kemampuan dan kejujuran pemerintah dalam mengelola uang rakyat. Ingat kasus korupsi yang terjadi di Asuransi Jiwasraya dan Asabri dan korupsi-korupsi lainnya ? Wajarlah kalau banyak yang skeptis dengan program Tapera.

Lalu, bagaimana dengan manfaatnya? Pemerintah menjanjikan banyak keuntungan, seperti suku bunga yang lebih rendah dan kemudahan dalam mendapatkan KPR. Tapi, janji-janji ini belum tentu terwujud, kan? Lagipula, masih banyak program lain yang menjanjikan hal yang sama tapi belum menunjukkan hasil nyata.

So, sebelum memutuskan untuk ikut Tapera, ada baiknya kita menimbang dengan matang semua aspeknya. Jangan sampai terjebak FOMO (Fear of Missing Out) dan ikut-ikutan tanpa pertimbangan yang matang.

Ingat, rumah memang penting, tapi kesehatan keuangan dan kepercayaan terhadap pemerintah juga gak kalah penting. Jangan sampai terjebak mimpi indah Tapera yang ternyata berakhir menjadi mimpi buruk.

Mas Guru sih, sarannya, tunggu dan lihat dulu perkembangannya. Kalau memang terbukti bermanfaat dan transparan, baru deh ikut.

Bagaimana menurut Sobat? Setuju dengan Mas Guru? Atau kamu punya pendapat lain? Yuk, bagikan di kolom komentar!


Saturday, May 18, 2024

Studi Wisata: Antara Manfaat dan Kontroversi

Kecelakaan maut yang menimpa rombongan studi wisata SMK Lingga Kencana, Depok, pada 11 Mei 2024, telah memicu kontroversi di masyarakat. Hal ini menambah kontroversi yang lebih mendalam terkait keamanan dan keselamatan dalam perjalanan pendidikan di luar sekolah. 

Beberapa poin yang patut menjadi catatan kita, antara lain : 

  • Kecelakaan yang menimpa para pelajar dalam agenda studi wisata mengundang keprihatinan dan pertanyaan tentang standar keamanan yang diterapkan dalam perjalanan tersebut.

  • Para orangtua dan masyarakat umum semakin mempertanyakan manfaat dari studi wisata jika resiko keamanan tidak dapat dijamin.

Peristiwa tragis ini, tak pelak,  kembali membuka perdebatan tentang perlu tidaknya studi wisata dihapus dari agenda sekolah.

Di satu sisi, pendukung studi wisata meyakini bahwa kegiatan ini memiliki banyak manfaat bagi siswa. Studi wisata dapat menjadi sarana untuk:

  • Meningkatkan wawasan dan pengetahuan siswa melalui kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, budaya, dan edukatif.

  • Membangun karakter siswa melalui kerja sama tim, disiplin, dan tanggung jawab dalam perjalanan.

  • Meningkatkan rasa cinta tanah air dan mengenal kekayaan alam dan budaya Indonesia.

  • Membuat kenangan indah dan mempererat persahabatan antar siswa.

Pihak yang mendukung studi wisata juga menekankan bahwa dengan perencanaan dan pelaksanaan yang matang, risiko kecelakaan dapat diminimalisir.

Di sisi lain, penentang studi wisata berargumen bahwa kegiatan ini memiliki beberapa risiko, seperti:

  • Kecelakaan lalu lintas: Seperti yang terjadi pada kasus SMK Lingga Kencana, kecelakaan di jalan raya selalu memiliki potensi bahaya.

  • Keuangan: Biaya studi wisata yang mahal dapat memberatkan orang tua siswa, terutama dari keluarga kurang mampu.

  • Keamanan: Siswa rentan terhadap tindak kriminal, penipuan, dan pelecehan selama perjalanan.

  • Efektivitas belajar: Konten pembelajaran dalam studi wisata tidak selalu terstruktur dan terukur efektivitasnya.

Pihak yang menentang studi wisata juga mengusulkan alternatif kegiatan belajar yang lebih aman dan bermanfaat, seperti:

  • Kegiatan belajar di dalam kelas dengan menghadirkan narasumber ahli atau mengadakan simulasi.

  • Kunjungan ke tempat-tempat terdekat yang mudah dijangkau dan terjamin keamanannya.

  • Kegiatan pembelajaran daring yang interaktif dan berbasis teknologi.

Kontroversi ini menunjukkan bahwa studi wisata merupakan isu yang kompleks dengan berbagai pertimbangan. Keputusan untuk mengadakan atau tidak studi wisata harus diambil dengan cermat, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kondisi yang ada.

Berikut beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan:

  • Tujuan studi wisata: Pastikan studi wisata memiliki tujuan yang jelas dan terukur manfaatnya bagi siswa.

  • Perencanaan matang: Lakukan perencanaan yang matang dengan melibatkan semua pihak terkait, seperti sekolah, orang tua, dan agen perjalanan.

  • Pemilihan tempat wisata: Pilihlah tempat wisata yang aman, terjamin kualitasnya, dan relevan dengan tujuan pembelajaran.

  • Keamanan: Pastikan keselamatan siswa menjadi prioritas utama dengan menerapkan protokol keamanan yang ketat.

  • Sosialisasi dan edukasi: Lakukan sosialisasi dan edukasi kepada siswa dan orang tua tentang pentingnya keselamatan selama perjalanan.

Pada akhirnya, keputusan untuk mengadakan atau tidak studi wisata adalah kewenangan sekolah. Sekolah harus mengambil keputusan yang terbaik berdasarkan pertimbangan matang dan dengan memperhatikan kepentingan semua pihak.

Penting untuk dicatat bahwa tidak ada jawaban yang mutlak untuk pertanyaan tentang studi wisata. Setiap sekolah dan orang tua harus mempertimbangkan sendiri manfaat dan resikonya sebelum mengambil keputusan.

Bagaimana pendapat Anda ?


Thursday, June 4, 2009

Coret Siswa yang Curangi UN, oh nasib....

Demikian judul berita harian Radar Malang edisi 3 Juni 2009. Isi berita tersebut secara garis besar adalah 3 institusi pendidikan tinggi negeri di Malang akan mencoret nama lulusan SMA yang telah melakuken kecurangan dalam Unas dari daftar PMDK. Karena yang disinyalir melakuken kecurangan ada 33 SMA, maka seluruh lulusan dari ke 33 SMA tersebut 'diharomken' masuk UB, UM dan UIN Maulana Malik Ibrahim.
Berita tersebut tentu cukup menyakitken bagi lulusan ke 33 SMA tersebut. Dan ancaman itu tidak hanya diperuntukken bagi siswa-siswa yang baru lulus doang. Siswa yang akan lulus di tahun-tahun mendatang juga tidak luput dari ancaman tersebut.

Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Yogi Sugito kemarin mengatakan, ada siswa dari dua sekolah itu yang telah diterima di UB melalui jalur PSB (penjaringan siswa berprestasi). Sayang, untuk jumlahnya, Yogi belum tahu pasti. Yang jelas, karena menganggap telah melakukan tindakan tidak jujur, siswa tersebut tetap dicoret. "Bahkan, untuk beberapa tahun ke depan, UB tidak menerima siswa dari sekolah yang melakukan kecurangan itu," tandas pria asal Tulungagung tersebut. (Radar Malang edisi 3 Juni 2009).
Keputusan Pak Rektor UB itu kayaknya perlu dipertimbangken ulang, apalagi jika sampai siswa-siswa yang nggak ikut-ikutan curang - siswa-siswa yang lulus tahun-tahun mendateng - harus terkena getahnya.Harusnya Pak Rektor melihat, apakah dalem kasus kecurangan itu yang paling bersalah itu siswanya, termasuk siswa yang sekarang masih kelas X dan XI ?
Kalo hemat Mas Guru, kesalahan utama adalah pada gagasan unas sebagai satu-satunya ukuran kelulusan siswa. Kalo nggak ada unas, pasti nggak akan ada siswa yang berbuat curang dalam unas. Karena usaha mereka selama 3 tahun hanya dinilai melalui unas yang hanya berlangsung nggak sampai seminggu, ya masuk akallah kalo mereka lantas menghalalken segala cara untuk lulus.
Kesalahan yang kedua ya pada sekolahan yang siswa-siswanya nggak lulus 100 prosen itu. Mana mungkin seluruh siswa melakukan kecurangan secara berjama'ah kalo nggak difasilitasi ? Cuma Mas Guru nggak berani menuduh siapa 'aktor intelektual' yang memfasilitasi tersebut ? Yang jelas, hel yang mustahal kalo pihak sekolah nggak tahu kalo seluruh siswanya melakuken kecurangan secara berjama'ah.
Nah, karena pelaku 'kejahatan ini' banyak unsur yang mungkin terlibat, pantaskah jika hanya siswa doang yang harus menanggung dosa dan sengsaranya ?

Saturday, March 7, 2009

Misteri di Balik Kematian David Hartanto Widjaja

Oh My God
Itulah komentar beberapa pembaca media Singapura setelah kematian Zhou ditemuken tewas tergantung di balkon apartemennya di Block 101C Nanyang Heights pada Jumat, 6 Maret malam. Apartemen tersebut didiami para staf dan mahasiswa lulusan NTU. Peristiwa ini terjadi hanya berselang beberapa hari dari kematian misterius mahasiswa Indonesia, yang juga mantan pemenang olimpiade matematika, David Hartanto Widjaja. Kontan saja kematian Zhou ini bikin banyak orang menduga-duga apakah ada kaitan antara kematian keduanya.
Sebagai orang yang tinggal di Endonesya, kita tentu sulit memastiken hal itu. Pasalnya, kita hanya mengikuti urusan kematian David hanya dari media masa doang. Tidak bisa mengikuti secara langsung. Dan, dipersulit lagi, banyak hal ditutup-tutupi sekitar kematian David ini. Barangkali yang bisa kita lakuken hanyalah sekedar berdoa seraya mendesak KBRI untuk pro aktif memantau kematian warga kita itu.


Berikut ini Mas Guru cukilkan pengungkapan fakta dari mantan temen David, dengan harapan kita bisa mendapatken gambaran yang lebih objektip.

Judulnya : Kebenaran Yang Tidak Diungkap di Media dalam Kasus David Hartanto
Hari ini (5/3-09) saya dan temen2 SD/SMP yang seangkatan sama David Hartanto (Ming2) kita sama2 main kerumah keluarga Hartanto, sekedar untuk menyampaikan bela sungkawa, serta mencari kebenaran yang sesungguhnya karena kami tahu kalau David tidak akan melakukan hal-hal yang seperti diberitakan oleh media. Disana kami disambut oleh kakak David, dan orangtuanya, kebetulan kami datang bersamaan dengan keluarga besar Hartanto, jadi kami lebih banyak mengobrol dengan kakak David, yaitu William Hartanto, atau dulu dikenal teman2 seangkatannya dengan panggilan Weha.

Semakin lama mendalami kasus ini, makin banyak keanehan yang terbuka, dan untuk adanya pemberitaan yang mulai menunjukkan kebenaran, kami berterima kasih untuk rekan David di NTU yaitu edwin, kami tahu dia mempertaruhkan gelar sarjananya demi mengungkap kebenaran, karena itu kami juga mau membantu menyebarkan kabar yang sesungguhnya -walaupun terus ditutupi dan dihalangi oleh pihak NTU-

Kejanggalan-kejanggalan yang ada:
1. Munculnya berita bahwa David menyerang Profesor Chan Kap Luk, lalu bunuh diri, padahal tidak ada bekas sayatan di pergelangan tangan seperti yang diberitakan, lalu darimana muncul berita tersebut? Untuk apa dimunculkan berita palsu bahwa David menyayat pergelangan tangannya?

2. Saat keluarga tiba disana senin malam setelah kejadian, keluarga ingin langsung melihat jenazah David, namun dihalangi oleh pihak2 tertentu, dengan alasan sudah peraturan, tentu saja keluarga harus menurut, apalagi saat itu keluarga masih syok. Lalu saat diizinkan melihat kondisi jenazah keesokan harinya, keluarga hanya diizinkan untuk melihat jenazah bagian leher ke atas, sedangkan bagian tubuh yang lain telah ditutupi plastik. Keluarga Hartanto juga telah mengkonfirmasikan ke pihak polisi Singapura, tidak ada luka di bagian pergelangan tangan. Saat itu keluarga Hartanto juga melihat di bagian leher depan (daerah leher dibawah bahu) terdapat banyak plesteran luka.

Pertanyaannya. Untuk apa keluarga Hartanto menunggu 1 hari untuk melihat jenazah keluarga kandung mereka sendiri? Mengapa jenazah harus ditutupi oleh plastik? Apakah benar ada peraturan seperti itu? Atau hanya karangan pihak2 tertentu saja untuk menutupi kenyataan? Darimana asal luka di leher? Mengapa jenazah David terlihat berdarah cukup parah di bagian bokong?

3. Saat keluarga tiba di TKP senin malam, karena tidak diizinkan untuk melihat jenazah, keluarga datang ke NTU untuk melihat TKP, namun saat sampai, polisi tidak menemukan satupun bekas darah ataupun police line. Hebat bukan? Hanya dalam waktu sekitar 7 jam sejak waktu kejadian, TKP telah bersih total, adakah alasan untuk buru2 membersihkan TKP?

4. Lalu keluarga datang melihat kamar David, dan apa yang ditemukan? Ternyata semua peralatan komputer yang ada di kamar David semua MENYALA. Apakah seorang yang mau bunuh diri akan menyalakan semua peralatan komputernya? Bahkan menurut kesaksian seorang teman, account MSN David masih menyala. Apakah hal ini terlihat seperti David mau mengakhiri hidupnya? Bahkan dia masih bermain game online sampai jam 2 pagi di hari kejadian bersama teman yang tadi menjenguk keluarga David.

5. Pada ruangan profesor tertinggal tas David yang biasa dia bawa, dan tebak apa yang dia bawa dalam tasnya? Sebuah handuk dan botol air mineral 1,5 L. (Semua yang mengenal Ming2 pasti tahu, dikelas, sejak SD, Ming2 selalu membawa handuk, bahkan kadang dikalungkan di leher saat berada di kelas, dia juga selalu membawa air minum yang banyak karena mamanya selalu berpesan untuk banyak mengkonsumsi air). Apakah seorang yang mau membunuh, lalu bunuh diri, akan membawa barang seperti itu? Akan jauh lebih mudah untuk membawa sebilah pisau yang besar (lebih besar dari pisau berukuran 10cm yang muncul di TKP, yang entah milik siapa).

6. Keluarga dihalang-halangi saat hendak bertemu dengan Profesor Chan Kap Luk,dengan alasan, saat itu dia sedang di ICU, dan kenyataannya? Hari rabu sang Profesor telah keluar dari rumah sakit. Apakah ada catatan seorang yang menderita luka tusukan parah yang harus masuk ICU, dapat keluar dari rumah sakit dalam tidak sampai 2 hari? Benarkan sang Profesor terluka? Atau hanya membaca koran sambil bersantai di ICU?

7. Saat keluarga ingin bertemu dengan "saksi mata" yang melihat David melompat dari lantai 4, pihak NTU menghalangi dengan alasan hal itu harus dirahasiakan.Oke, kalau begitu, darimana kita tahu kalau benar2 ada orang yang melihat kalau David benar2 melompat, bukannya terjatuh ataupun dijatuhkan orang?

8. Data tentang David dan FYP (Final Year Project) nya telah dihapus dari database NTU. Hanya dalam 2 hari, NTU langsung menghapus data topik FYP yang sedang David kerjakan, adakah alasan khusus dibalik keterburu-buruan pihak NTU untuk menghapus data tersebut? Tidakkah ada rasa ingin mengenang salah satu mahasiswa berprestasinya, alih-alih langsung menghapus data, seakan David tidak pernah kuliah disana?

Di bawah ini adalah alamat google cache dari page yg membuktikan hal tersebut di atas:
as it appeared on 1 Mar 2009 23:00:13 GMT
Lihat nomer 208
Link

bandingkan dengan link saat ini:
Link

9. Polisi Singapura menahan Laptop milik David dan akan dikembalikan setelah penyelidikan selesai. Untuk apa?

10. Pisau yang ada di TKP, dilaporkan berasal dari hall 4, itu hasil investigasi? Atau hanya karangan? Seorang teman di NTU berkata bahwa biasanya seorang dosen memiliki pisau kecil di ruangannya yang biasa digunakan untuk memotong buah. Jadi? Itu pisau milik David Hartanto atau Chan Kap Luk?

11. Waktu kejadian adalah sekitar jam 10.45 waktu Singapura hari Senin, apakah tidak terdengar aneh jika hanya sedikit sekali mahasiswa yang ada dan menyaksikan kejadian? Adakah tekanan dari pihak NTU untuk tutup mulut?

12. Senjata yang ditemukan -pisau buah 10cm- ditemukan tanpa gagang,dimanakah gagangnya? Mengapa tidak dilakukan analisa sidik jari? Jelas tidak mungkin menusuk seseorang tanpa menggunakan gagang pisau, jadi entah siapapun yang menusuk siapa, pasti ada gagangnya, namun pemberitaannya belum jelas.

Pemberitaan miring yang disebutkan media pun tidak berdasar, berikut klarifikasinya:

1. David berniat membunuh Profesornya lalu bunuh diri meloncat. Di dalam ruangan tersebut hanya ada David dan Profesor, David telah tiada, dan kesaksian yang bisa didengarkan hanyalah dari Profesor, darimana kita tahu kalau kesaksian tersebut benar? Tanpa bukti2 yang cukup, kesaksian Profesor tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan David.

2. David dikatakan stress karena beasiswanya dicabut, bahkan dia salah sasaran,yaitu mengamuk ke dosen pembimbingnya. Tidakkah hal itu terdengan sangat aneh? David sangat tahu dengan jelas bahwa beasiswanya diberhentikan karena prestasinya menurun, bukan salah Profesor itu. Pihak keluarga telah diberitahu sejak hari pertama diberitahukan bahwa beasiswanya diberhentikan, dan pihak keluarga menerima, dan mampu untuk membayarnya, David juga bersikap biasa2 saja tentang pemberhentian beasiswanya. Bagi yang mengenal dia, tentu tahu bahwa dia orang yang sangat cuek, hal ini juga dapat dilihat dari post edwin.

3. Dikatakan pula, bahwa David depresi karena tidak mampu menyelesaikan FYPnya. Seorang rekan David disana menyatakan bahwa FYP David hampir selesai. Dia tidak pulang ke Indonesia pada akhir semester lalu, karena ingin berkonsentrasi menyelesaikan FYPnya. Bagi yang mengenal David, apalagi kami teman sekolahnya, tentu tahu, David sejak dulu memang ketagihan game, tapi 1 hal, dia selalu mengerjakan tugas dan PRnya dengan baik, tanpa bantuan orang lain apalagi menyalin hasil pekerjaan orang lain. Jadi, jika dikatakan dia menyerang dosen pembimbingnya karena FYPnya tidak selesai, hal itu benar2 tidak masuk diakal.

4. David diberitakan pula menghilang dari pergaulan selama kurang lebih 1 minggu sebelum kejadian, namun keluarga David tahu yang sebenarnya, David sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan FYPnya, jadi pernyataan bahwa David menghilang dari pergaulan karena sedang depresi dan ingin membunuh itu sangat tidak valid, karena saat itu dia banyak chatting dengan kakaknya, bahkan bermain game online bersama temannya di Indonesia. Terlihat seperti orang depresi yang mau membunuh dosennya? Tidak sama sekali!

Saat ini fakta-fakta yang muncul setelah menyingkirkan pemberitaan media adalah:
1. David meninggal jatuh dari lantai 4, tanpa luka sayatan di pergelangan tangan, dan dengan luka di bagian leher, serta bagian bokong berlumuran darah.
2. Sang Profesor keluar dari rumah sakit dalam 2 hari, tanpa kejelasan dan foto apakah dia terluka atau tidak.
3. Pisau tidak jelas berasal darimana, dan ditemukan tanpa gagang.
4. Pihak universitas menutup-nutupi kejadian ini.

Spekulasi dan kemungkinan-kemungkinan:

Apakah benar David menyerang profesor saat dia sedang membungkuk menghadap ke layar komputer? Jika itu benar, maka tidak mungkin saat ini profesor tersebut telah pulang ke rumahnya dalam 2 hari sejak kejadian.

Apakah sang profesor tersebut yang justru menyerang David?
Tidak tahu, namun jika ya, apa motifnya?

Saat ini santer beredar di Singapura kabar bahwa sang Profesor ingin merebut FYP milik David. Hal ini didukung oleh kesaksian teman David yang mengatakan FYP David hampir selesai. Apakah mungkin seorang dosen dan Profesor dari universitas terkemuka di negara maju mau merebut FYP milik mahasiswanya sendiri? Apakah ini motif sesungguhnya? Kita tidak tahu!

Apakah ada orang ketiga dalam kasus ini?
Kita tidak juga tahu.

Ming, saat ini lo udah gak ada, gak ada lagi yang bisa kita lakukan buat lo, selain pulihin nama baik lo, dan menyatakan kebenaran, lo istirahat yang tenang aja disana.

RIP, ming.

Kabarkan ini ke teman-teman, saudara, dan copylah tulisan saya ini di blog/forum/facebook/friend
ster anda.

Salam.
Klemens A.

Sunday, July 6, 2008

Pilkada dan Janji Pendidikan Gratis

Pendidikan gratis tampaknya merupaken keinginan hampir setiap warga bangsa negeri Endonesya. Yang dimaksud gratis di sini adalah biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Yang dimaksudken gratis di sini adalah dana pendidikan diambilken dari APBN maupun APBD, yang memang dana itu adalah dananya rakyat. Wajar toh kalau dana milik rakyat tersebut juga dgunaken untuk dana sebaek-baeknya, daripada dihambur-hamburken untuk korupsinya parta abdi negara yang sebetulnya gajinya sudah lebih dari cukup.

Keinginan ini tampaknya mampu dibaca dengan baek dan cermat oleh calon pimpinan daerah atau pimpinan negara. Tak mengheranken jikalau pada maca kampanye, isu pendidikan gratis selalu diusung oleh para calon pimpinan saat menjelang pemilu.

Pada mulanya rakyat cukup terhibur ketika 'dibuai' dengan isu-isu pendidikan gratis oleh para calon kontestan pemilu. Siapapun kontestannya, ketika dia gembar-gembor soal pendidikan gratis rakyat pasti akan suka. Rakyat akan mendengarken para juru kampanye atau tim sukses dari salah satu kontestan menyenandungken lagu pendidikan gratis. Rakyat mendengarken 'nyanyian merdu' itu dengan mata melek-merem. Saking nikmatnya.

Namun, saat kontestan yang menyanyiken lagu merdu tersebut benar-benar menjadi seorang kepala daerah, lagu itu pun dicampakkannya ke tong-tong sampah. Pendidikan gratis hanyalah fenomena nggedobos belaka. Maka, slogan yang biasa mereka gunaken itu pun berubah bunyi menjadi 'Pendidikan' itu memang mahal. Masyarakat harus turut serta dalam memikul anggaran pendidikan.

Berikut ini adalah keluhan warga akibat 'tertipu' oleh salah satu kontestan pemilu, baik daerah maupun pusat, saat musim pemilu/pilkada :

Ayo Tepati Janji Gratiskan Pendidikan

SETIAP datang masa pendaftaran siswa baru, para orang tua dibuat pusing tujuh keliling. Maklum, meski sudah digembar-gemborkan pendidikan gratis, nyatanya biaya sekolah masih selangit. Tak hanya sekolah swasta, tapi sekolah negeri pun masih menarik biaya relatif tinggi.

Di beberapa daerah, biaya SPP, BP3, atau uang buku memang sudah dihapus. Tapi, seiring dengan penghapusan itu, muncul penarikan biaya dengan hanya berganti nama. Misalnya, biaya SPI atau sumbangan pengembangan institusi, uang pelatihan komputer, uang ekstrakurikuler, dan sebagainya.

Ironisnya, besarnya pungutan yang "berganti baju" tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Bahkan, di Kota Semarang, untuk bisa masuk SMP lewat jalur khusus, orang tua membayar hingga Rp 20 juta. Duh, mahalnya biaya sekolah sekarang.

Padahal, pada setiap kampanye calon bupati, gubernur, ataupun presiden, si calon kerap melontarkan janji-janji pendidikan gratis, pendidikan murah, memperbesar anggaran pendidikan, dan lain-lain. Nyatanya, pendidikan tetap mahal. Janji itu hanya tinggal janji tanpa bukti. Sekarang, rakyat menunggu, kapan pendidikan yang "benar-benar" gratis itu bakal terwujud?

ARIF RIYANTO, Jl Pandean Lamper IV RT 7 RW 6, Peterongan, Semarang

Sumber : Jawa Pos

Sunday, June 8, 2008

Sekolah 'Bertarif' International

Hari itu adalah hari Jum'at. Seperti biasa, sehabis menuaiken sholat jum,'at, kami tidak langsung pulang. Kami ngobrol tentang berbagai hal. Kebetulan hari itu topiknya adalah mengenai ributnya orangtua memikirken sekolah lanjutan anaknya. Salah seorang teman yang ikut dalam obrolan itu, mas Bledheg, seorang guru negeri di salah satu SMKN yang punya kelas SBI menjadi orang yang banyak mendapat pertanyaan saat.

Pertanyaan banyak timbul lantaran, mengapa kelas SBI yang dipunyai sekolahnya biayanya mahal banget. Kayaknya kelas itu hanya untuk orang-orang kaya saja.
"Itu kan menimbulkan diskriminasi Mas. Kalau anak orang kaya saja yang bisa mendapatken pelayanan maksimal dalam pendidikan, maka selamanya anak orang yang ndak kaya seperti anak saya ini tersubordinasiken oleh anak-anak orang kaya itu ?" teriak mas Hadi bernada protes.

"Ah ya ndak gitu mas,"jawab mas Bledheg kalem."Kalau menurut saya, masalah kualitas dari output kelas SBI dan kelas reguler, kayaknya sih ndak beda banget. Memang dari segi kualitas sarana yang disediaken berbeda; kurikulumnya juga ada tambahan-tambahan di kelas SBI; tapi peluang kerja setelah lulus, ya sama saja. Banyak lulusan SBI menjadi pengangguran. Juga banyak lulusan SBI yang ndak berhasil masuk ke PTN. Jadi, apa bedanya ?"
"Lha kalau kualitas lulusannya ndak beda-beda amat, mengapa namanya Sekolah Berstandar Internasional ?" Tanya dik Budi.
"Itu kan salah sampean sendiri di, ngapain SBI dipanjangken menjadi Sekolah Berstandar International." Jawab mas Bledheg dengan enteng.
"Lha kalau bukan itu, memang apa singkatannya Mas ?" tanya di Budi penasaran.
"Kalau menurut saya sih singkatannya Sekolah 'Bertarif' International. Tarifnya saja yang international, mutunya tetep lokal kok. Jadi ya ndak perlu dikhawatirken." Jelas Mas Bledheg.
"Wah,kalau gitu sekolah sampean itu bisa dibilang melakuken penipuan lho Mas," saya mengingatken Mas Bledheg.
"Wah ya ndak dong mas Guru,"potong Mas Bledheg,"Fasilitas dan kurikulumnya kan sedikit beda. Nah karena ada perbedaan, maka wajar toh kalau harganya beda."
"Tapi heran saya, kok animo terhadap kelas SBI itu kok ya tinggi banget ya ?" Celetuk Paklek Bani.
"Saya beritahu rahasianya ya. Tapi,jangan bilang-bilang lho. Nanti saya bisa diskors atau dimutasi kalau kedengaran kepala sekolah saya,"pinta Mas Bledheg."Masyarakat kita itu suka percaya pada yang mahal. Apalagi sedikit dibumbui nuansa-nuansa yang modern dan international.Nah, tahayul-tahayul itu yang benar-benar kami manfaatken. Lumayan ken ?"
"Ah bisa saja sampean mas."Komentar kami nyaris serempak.
"He he he........x 1000." Mas Bledheg terkekeh-kekeh.

Friday, May 2, 2008

PTN vs PTS

Terimbas oleh eforia otoda, pengelola berbagai PTN tampaknya mulai gelap mata. Gambaran ini bisa kita lihat pada saat para rektor PTN memutusken untuk tidak menggunaken model SPMB seperti tahun-tahun sebelumnya, dan kembali ke model UMPTN. Alasannya saat itu, karena dengan SPMB dana dari calon mahasiswa tidak masuk ke kas negara.

Jika dipikir lebih jauh, sebetulnya alasan itu terasa dibuat-buat. Karena, meski dana tersebut dimasukken ke kas negara, toh akhirnya mereka ambil kembali. Tapi, biarlah kita tidak mempersoalken itu.

Yang justru menjadi pikiran kita adalah dengan otonomi penerimaan mahasiswa baru ada di tangan mereka, justru akan banyak pihak yang dirugiken. Dengan otonomi tersebut, hampir semua PTN menaikken jumlah kuota penerimaan mahasiswa barunya. Penambahan kuota ini umumnya tidak dibarengi dengan penambahan fasilitas, dosen dan lain sebagainya. Bisa diprediksi bahwa tanpa penambahan fasilitas dan dosen, minimal, penambahan kuota tersebut akan merugiken mahasiswa. Karena jumlah dosen dan fasilitas yang sama akan dipergunaken untuk melyani jumlah mahasiswa yang lebih besar. Kondisi ini pasti akan menurunken kualitas pelayanan.

Dari situ bisa kita simpulken bahwa PTN lebih mementingkan income ( pendapatan dana ) daripada kualitas lulusannya. Kalau saat ini sering dikatakaken kualitas lulusan kita terkategori kurang baek, bagaimana jika pelayanan institusi pendidikan tinggi diturunken ? Pasti kualitasnya akan lebih jeblok.

Selaen merugiken mahasiswa, kebijakan menaikken kuota tersebut juga merugiken PTS yang selama ini juga turut berjuang mencerdasken bangsa. Kita semua barangkali sudah mahfum kalau masyarakat kita masih lebih mempercayai kualitas PTN daripada PTS, meski asumsi tersebut tidak selalu benar. Dengan ditambah kuotanya, otomatis lebih jumlah lulusan SLTA akan banyak terserap PTN, sementara PTS akan semakin sulit mendapatkan calon mahasiswa baru. Jika ini diterusken, di masa yang akan dateng pasti akan banyak PTS bangkrut. Padahal mereka ini sudah punya sarana, dosen, pengalaman dan pengabdian. Apakah hal ini tidak menjadi pertimbangan para rektor PTN ? Juga apakah tidak dipertimbangken nasib dosen-dosen PTS yang selama ini mengandalken hidup dari pekerjaan mengajar jika sampai institusi tempat mereka mengabdi bangkrut ?

Memang ada omongan dari kalangan PTN, bahwa kalau mau survive ya harus bertarung secara sehat dan terbuka. Mari kita pertimbangken, sehatkah pertarungan antara PTN dan PTS dalam kondisi seperti sekarang ? Selama ini PTN telah banyak mendapatken dana dari pemerintah : mulai gaji dosen, biaya operasional, pembangunan fasilitas dan laen sebagainya. Sehingga, semua PTN dipastiken memiliki modal bersaing yang amat memadai. Sementara PTS ? Dana utama untuk gaji dosen, operasional maupun pengembangan sebagian besar hanya dari uang mahasiswa. Sehingga, sarana dan prasarana yang dimiliki umumnya jauh dari kata memadai jika dibandingken dengan yang dimiliki PTN. Jika dipaksa bersaing dengan PTN dalam menggalang calon mahasiswa baru, ibarat pertarungan gajah dengan semut. Apakah ini yang disebut persaingan yang sehat ?

Menyikapi hal ini, mau tidak mau, PTS-PTS harus mengembangken berbagai kiat untuk mendapatken mahasiswa baru. Berikut ini ada beberapa kita yang telah dilakuken PTS-PTS di Malang :

PTS Pasang Kuda-Kuda


MALANG - Pengelola PTS di Malang menguatkan barisan internal lembaganya menghadapi PTN yang menambah kuota mahasiswa nonreguler. Terobosan-terobosan pun disiapkan.

Unisma misalnya. Tahun ini kampus di kawasan Dinoyo ini tidak menaikkan biaya pendidikan bagi mahasiswa baru. "Mau tidak mau harus ada terobosan baru. Tidak hanya menggairahkan prodi yang mulai sepi peminat, tapi juga tidak menaikkan biaya (pendidikan)," tegas Rektor Unisma Dr Ir Abdul Mukri Prabowo Senin (28/4) kemarin.

Sementara, STIE MCE (Malang Kucecwara) kini konsentrasi "menjual" lulusannya. Aspek ini dinilai bisa masuk menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih PTN. "Sebelum lulus, alumni kami imbangi dengan materi soft skills," ujar Ali Lating, humas STIE MCE kemarin (30/4).

Upaya tersebut tak cukup berhenti di situ. Saat wisuda, STIE MCE telah menyiapkan strategi baru. Yakni, melakukan rekrutmen tenaga kerja di kampus. Caranya, dengan mengundang sejumlah perusahaan besar untuk menyeleksi lulusan STIE MCE sesuai kebutuhan perusahaan tersebut. "Memang baru tahun pertama. Kami yakin, upaya ini akan menambah nilai plus bagi masyarakat dalam memilih PTS," katanya.

Hal yang sama juga dilakukan Universitas Kanjuruhan (Unikan) Malang. Rektor Unikan Drs Amir Sutedjo SH MPd mengatakan, menyikapi persaingan maba, Unikan lebih memilih jemput bola. Artinya, manajemen melakukan terobosan langsung dengan kampanye di berbagai daerah. Tidak hanya di Jawa Timur, tapi juga kawasan Indonesia timur. Untuk maba dari Indonesia timur, pihaknya menjemput langsung di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

"Sampai di Malang, kami tampung dan diberi uang saku sampai dapat pondokan tetap," ujar Tedjo, sapaan akrab Amir Sutedjo.

Langkah lain, lembaga ini juga merombak tampilan fisik dan kurikulum sekaligus. Bahkan, beberapa ruang kuliah dipantau langsung dengan kamera CCTV. "Selain promosi, kami terus menggalakkan budaya penjaminan mutu," tandas dia.

Sumber Jawa Pos edisi Kamis, 2 Mei 2008

Saturday, April 26, 2008

Kere Munggah Bale

Kakek saya pernah ngasih nasehat padaku saat aku kecil.
Sabda beliau saat itu "Ngger, entar jika kamu jadi orang terpandang, berkedudukan atawa kaya sekali, kamu harus waspada pada dirimu sendiri."
"Kenapa memangnya kek, wong diri sendiri kok perlu diwaspadai,"begitu tanyaku tak mengerti.
"Orang yang tiba-tiba punya punya kuasa sehingga menjadi orang terpandang, berkedudukan atawa kaya sekali, kalau ndak bisa menguasai diri, biasanya akan menjadi adigang,adigung dan adiguna. Itu ibarat Kere Munggah Bale," Kakek memberi penjelasan.

Di negeri kita ini, salah satu institusi yang dumadakan punya kuasa powerfull adalah legislatif. Di Zaman mbah Harto dulu, peranan mereka hanyalah tukang 'nggah nggih' dan tukang stempel dhawuh mbah Harto. Setelah zaman reformasi, meski pun tak perlu ikut memperjuangkan gerakan reformasi tersebut, mereka bak mendapat buah durian dari gerakan reformasi tersebut.

Hak-hak mereka sebagai legislatif sepenuhnya mereka genggam. Dengan hak tersebut,mereka kini berani maido presiden. Dengan begitu, hak mereka untuk memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, rakyat yang rela berdarah-darah di saat kampanye supaya para caleg mereka bisa duduk di kursi empuk parlemen.

Tapi, tampaknya, hak istimewa itu tidak ingin mereka pergunakan sepenuh ( hati ) mereka. Pasalnya, mereka lebih menyukai memperjuangkan hak pribadi mereka. Semisal, kenaikan gaji, kenaikan tunjangan, tambahan berbagai fasilitas dan tambahan-tambahan yang laen. Meski rakyat menjerit-jerit dicekik kemelaratan, mereka kayaknya ndak peduli. Mungkin mereka berpikir, 'Ngapain mau jadi orang melarat ?'

Tapi soal itu, maksudnya kurang sungguh-sungguh memikirkan rakyat banyak, adalah hak mereka. Rakyat banyak mulai mafhum dengan kelakuan orang-orang yang pernah mereka perjuangkan di saat kampanye pemilu. Namun ada banyolan yang menyakiti hati kita semua yang dilakukan oleh anggota DPR. Di saat ada anggota mereka yang ketangkep basah melakukan tindak korupsi oleh KPK, dan ruang kerja anggota yang diduga melakukan korupsi ini akan digeledah oleh KPK, mereka jadi muntap dan mencak-mencak. Bahkan ndak tanggung-tanggung, salah satu dari anggota dari warga'yang terhormat tersebut melontarkan gagasan untuk memberangus KPK yang dianggap berani kurang ajar kepada warga terhormat itu.

Perhatikan cuplikan berita berikut :
Reaksi ekstrem itu semakin menunjukkan bahwa politisi Senayan berusaha melakukan proteksi dari upaya pengusutan korupsi yang dilakukan KPK. Sehari sebelumnya, para pimpinan DPR telah bermufakat untuk menolak penggeledahan yang akan dilakukan KPK di ruang kerja anggota Komisi IV Al Amin Nasution. Al Amin tertangkap basah dengan dugaan menerima suap. Kabarnya, KPK juga akan memeriksa enam ruang kerja anggota DPR lain terkait kasus Al Amin. DPR tidak mau digeledah karena ingin mempertahankan martabat lembaganya.

Keinginan untuk membubarkan KPK itu terletup dari anggota Komisi III Ahmad Fauzi. "KPK ini sudah terlalu superbody," kata Fauzi yang berasal dari Partai Demokrat itu di gedung DPR Senayan, Jakarta, kemarin.

Sumber Jawa Pos

Beberapa hari sebelumnya, sebelum AL Amin ketangkep, kalangan DPR berencana menuntut group band Slank. Pasalanya, group band itu dinilai telah lancang memberi cap yang ndak elok untuk DPR. Untungnya, Al Amin segera ketangkep, sehingga DPR urung menuntut Slank. Mas Guru ndak tahu kenapa rencana menuntut Slank gagal dengan tiba-tiba paskah ketangkepnya Al Amin. Apa mereka berpikir 'Jangan-jangan yang dilaguken Slank itu emang bener ? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Tapi pelajaran penting yang harus diperhatiken adalah JANGAN SEKALI-SEKALI LANCANG KEPADA DPR KALAU INGIN SELAMET. Dan mudah-mudah ndak ada anggota DPR yang membaca postingan ini, supaya blog ini juga selamet.

Monday, March 31, 2008

WEBSITE GOLKAR DAN DEPKOMINFO DIBOBOL HACKER

Beberapa hari ini dunia telematika kita dihebohken oleh ulah hacker. Website Golkar dan Depkominfo dibobol hacker. Barangkali kita semua sudah pada mafhum jika kedua website tersebut pasti telah diberi pengaman yang berlapis-lapis dan dikerjaken pakar-pakar top di bidang IT. Tapi di atas langit masih ada langit, begitu kata engkong. Seorang ( atau lebih ) ternyata mampu menjebol website dua institusi penting di negeri ini.

Akan tetapi, Mas Guru tak hendak berbicara lebih jauh soal pembobolan di atas. Bukan karena enggan, tapi karena Mas Guru amat sangat ndak paham soal IT yang ndakik-ndakik. Bisa ngeblog gini saja sudah sangat bersyukur. Yang ingin Mas Guru tulisken di sini adalah bagaimana cara kedua instansi pemilik web tersebut bereaksi.Kalau fungsionaris Golkar terkesan sewot dengan ulah hacker ini, Menkominfo justru menampilken kedewasaan seorang yang bijak.
Seperti di lansir harian Antara terbitan 28-3-2008 dengan judul Golkar Laporkan Kasus Situs Bobol ke Polda, para fungsionaris Golar berencana melaporken kasus pembobolan tersebut ke Polda Metro Jaya, meski pun tampilan website mereka telah on line kembali secara normal. ( Beritanya lihat di sini ).
Bandingken dengan cara Cak Nuh menyikapi masalah yang sama. Sebagai seorang pakar IT yang memimpin departemen yang juga bagian mengurusi IT, mestinya teramat tersinggung dan malu ketika website departemennya dibobol hacker. Orang bisa bilang, ternyata M.Nuh itu Cuma segitu. Ini tentu sudah bisa bikin orang biasa marah besar.
Tapi, ternyata Cak Nuh, dengan kedewasaan seorang intelektual, bisa bersikap lembah, tidaj grusu-grusu dan tenang. Dia bilang, kekerasan jangan dilawan denga kekerasan. ( Beritanya baca di sini ). Meski telah tahu hackernya, tapi tidak ingin nguber-uber hacker tersebut. Andaikata banyak pejabat mau bersikap dewasa, pasti suasana negeri ini akan lebih sejuk.

Wednesday, March 26, 2008

Heboh Rencana Penutupan Situs Porno

Beberapa hari belakangan ini kita dibikin heboh mengenai keprihatinan berbagai kalangan mengenai maraknya situs porno dan aksi-aksi remaja kita berporno-ria di dunia maya ini. Berikutnya, kita dihebohken kabar beredarnya foto porno artis, Sandra Dewi dan Anita Tumbuan, yang beredar di beberapa media masa. Meski akhirnya diklarifikasi oleh pakar telematika bahwa foto Sandra Dewi adalah hasil rekayasa tangan usil. Tapi apa pun klarifikasinya, yang jelas gambar porno tersebut telah beredar dan dibaca anak-anak kita.

Tentu semua kabar berita tersebut semangkin menambah keprihatinan kita. Tapi syukurlah, mentri kita yang cerdas, Cak Moh. Nuh mengumumken bahwa pemerintah akan menutup berbagai situs porno yang beredar di tanah air. ( Seperti diberitaken koran Antara beberapa waktu lalu ). Dan tak ndak perlu mempertanyaken apakah ide penutupan situs porno ini idea kreatif Cak Nuh sendiri atau boleh nyontek dari negara laen, seperti Jepang misalnya. Yang penting, niat baek itu dapat menenangken hati kita. Kita jadi ayem karenanya.

Tapi sayang, atas idea baek itu, banyak kalangan yang menyataken kepesimisannya atas kesuksesan pelaksanaan kebijakan tersebut. Masa Guru melihat di tivi, banyak tokoh, bahkan ahli telematika Roy Suryo menyataken kepesimisannya. Dinyataken bahwa ide itu akan sulit diwujudken.
Lha saya jadi nggumun umun-umun dengan pernyataan-pernyataan demikian. Lha saat ini banyak warga bangsa ini sedang spaneng ketakutan anak-anaknya berhaha-hihi nonton pilm porno di internet, lalu ada rencana penutupan situs-situs yang menyiarken pilm-pilm begituan, kok malah dipesimisi. kalau memang ahli mbok ya ngasih usul apa saran gitu bagaimana supaya rencana penutupan itu bisa dilaksanaken dengan sebaek-baeknya. Jangan malah diweden-wedeni gitu.
Mas Guru jadi mengira-ira di dalem hati, jangan-jangan mereka yang koar-koar pesimis, diam-diam ndak menyetujui rencana penutupan tersebut. Soalnya, nyari pilm porno di internet kan sangat mudah. Kalau ditutup, lalu nyari pilm seperti itu dimana ? Ini bukan su'udhzon lho, cuma ngira-ngira saja.

Monday, March 17, 2008

Derita Unas

Try out ujian nasional (unas) di Kabupaten Pasuruan menunjukkan hasil memprihatinkan. Angka ketidaklulusan mencapai 85 persen lebih dari total 17.236 peserta. Kecewa dengan hasil tersebut, Dinas P dan K menuntut sekolah melakukan drill khusus. ( Radar Bromo, 06 Mar 2008 )
Apa yang dialami oleh murid-murid di Kabupaten Pasuruan tersebut pasti tidak berbeda dengan yang dialami rekan-rekan mereka di kabupaten laen. Jika sudah begini yang dibikin puyeng oleh proyek nasional yang bernama unas tersebut tentu sangat luas. Mulai dari orangtua murid, guru, kepala sekolah sampai kepala diknas.
Dalam berita yang dtulis Radar Bromo di atas, tergambar betap kecewanya kepala diknas Kabupaten Pasuruan :
Kekecewaan Dinas P dan K ini tidak bisa lagi ditutupi, saat melihat rekapitulasi hasil try out. Dari hasil rekap itu terlihat jelas berapa banyak siswa yang tidak berhasil lulus. "Ternyata persentasenya masih cukup tinggi," kata Kadis P dan K Bambang Pudjiono didampingi Kasubdin Sekolah Lanjutan Iswahyudi.

Tapi, kalo dipikir-pikir siapa yang paling dibikin pusing oleh hasil try out yang memprihatinkan tersebut ? Kalo kepala sekolah dan kepala diknas pusingnya paling-paling takut dimarahi atasannya. Kalo mereka memprihatinkan soal lain, misalnya nasib murid, paling ya lips serpis saja. Beda dengan orangtua murid, kesedihan mereka justru berkaitan dengan nasib dan masa depan anak-anak mereka. Bukankah bagi orangtua, nasib dan masa depan anak merupakan sesuatu yang penting, sesuatu yang pasti akan menjadi perjuangan hidup mereka ?
Demi masa depan anak, apa saja akan dilakukan. Mereka tak akan keberatan mengeluarkan dana yang relatif besar untuk memasukkan anak-anaknya ke lembaga-lembaga bimbingan belajar yang bergengsi, supaya anaknya bisa lolos dari neraka unas. Meski untuk itu harus mengencangkan ikat pinggang seketat-ketatnya, sampai sampai pusernya nempel pinggang. Kondisi demikian akan lebih fatal jika ada ‘orang-orang pinter’ yang memanfaatken situasi. Menjelang pelaksanaan proyek unas, dari tahun ke tahun, kita selalu membaca berita adanya oknum-oknum yang menjual ‘bocoran soal unas’ kepada orang tua yang mengalami kebingungan tersebut. Entah soal bocoran itu bener atau tidak, yang pasti orang tua itu harus merogoh kocek cukup dalem untuk membelinya.
Cerita pedih itu, juga dialami para guru, meski dengan versi yang berbeda. Supaya kepala sekolah tidak kehilangan muka karena banyak muridnya ndak lulus, mereka menekan guru-guru untuk menambah jam pelajaran untuk murid kelas 3.
Masih banyak guru yang mengeluhkan sikap kepala sekolah (Kasek) menjelang pelaksanaan ujian nasional (unas) SMA. Para Kasek rata-rata mempunyai target nilai yang tinggi dalam ujian yang akan dimulai akhir April nanti. Kondisi tersebut mengakibatkan tekanan psikologis terhadap guru mata pelajaran unas dan siswa calon peserta ujian. ( Jawa Pos, 16 Mar 2008 )
Mas guru merenungkan, sebetulnya yang membikin keadaan seperti di atas itu siapa ? Apakah guru-guru dan orangtua murid atau pemerintah ? Mas guru sangat haqulyaqin kalau yang salah itu bukan guru dan orangtua murid.
Kenapa ?
Kalo murid-murid kita jauh dari kualitas yang diharapken, pasti karena kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini yang ndak bener. Mas guru sendiri ndak tahu persis dimana letak kesalahannya. Bisa saja karena anggaran pendidikan terlalu kecil, terlalu banyak sunatan massal terhadap dana pendidikan yang seharusnya ditujukan untuk peningkatan mutu pendidikan, kebijakan-kebijakan yang ndak bener di bidang pendidikan, atau kepala sekolah yang ndak becus memanage lembaga pendidikan yang dipimpinnya atau sebab laen.
Tapi yang Mas guru tahu pasti, perbaikan pengelolaan sekolah tidak pernah dilaksanaken dengan sungguh-sungguh, pengawasan pengucuran dana dari pusat dan pemanfaatannya di tingkat sekolah tidak diawasi dengan sungguh-sungguh, dan pemerintah tidak mempercayai peran guru dalam meningkatken mutu out put pendidikan. Selama hal ini tidak dibenahi dengan sungguh-sungguh, mutu pendidikan kita pasti akan sama. Bukankah kalo kita ingin tidak kecebur di lobang yang sama harus mencari jalan ( strategi ) yang laen ?

Wednesday, March 12, 2008

PTN di Malang Tetap Ikut UMPT Nasional

Keluarnya 41 PTN dari perhimpunan SPMB dipastikan tidak akan mengubah system penerimaan mahasiswa baru di Malang. ( beritanya lihat di sini ). Berita ini tetu melegakan PTS-PTS yang ada, yang selama ini merasahkan kalau-kalau PTN-PTN itu akan membikin aturan maen sendiri dalam menjaring calon mahasiswa baru.

Sebelumnya para pengelola PTS di Malang mengkhawatirkan kala-kalau PTN memajukan waktu SPMB mereka atau menambah quota jumlah mahasiswa barunya. Jika ini terjadi, maka akan makin memberatkan PTS dalam menjaring mahasiswa baru. Soalnya, selama ini PTN sudah habis-habis menyedot lulusan-lulusan SLTA melalui berbagai cara, selaen melalui cara reguler. Misalnya melalaui jalur PMDK, ekstensi, dan macem-macem.

Jurus-jurus baru yang dikeluarken PTN semenjak mereka menjadi BHMN bener-bener bisa mematiken PTS. Pasalnya, satu-satunya sumber dana PTS ya dari pembayaran mahasiswa. Kalau ada bantuan dana dari pemerintah, program-program pendanaan dari dikti, juga ndak terlalu signifikan dan ndak bisa diandalkan rutinitasnya. Ini terutama dirasaken oleh PTS-PTS gurem. Nah, kalau PTN-PTN terus memelihara kerakusannya dalam meraup mahasiswa baru, ini benar-benar bisa bikin PTS modar. Bisa-bosa bayar dosennya saja megap-megap, apalagi untuk peningkatan kualitas ?

Barangkali yang perlu direnungken bersama adalah bahwa PTS-PTS itu juga ingin mengabdiken diri kepada bangsa ini melalui upaya memintarken anak-anak muda. Marilah sama dipahami bahwa dunia pendidikan bukanlah lembaga bisnis yang bisa menerapken kapitalisme seenak udelnya sendiri, di mana yang sudah mapan dan besar boleh mematiken yang kecil dan sengsara. Kalau dalam dunia bisnis, biasanya yang besar-besar rame-rame menginjak yang kecil supaya ndak ngruweti.

Harapan kita, moral kapitalisme demikian tidak menjangkiti akal para pengelola PTN yang sudah besar karena selama ini didanai negara. Berilah ruang buat yang laen ( PTS ) supaya bisa tetep hidup. Bukankah arti "pendidikan juga menjadi tanggung-jawab masyarakat", sebagaimana diamanatken Sisdiknas, tidak saja berarti masyarakat harus menyalurken dananya melalui PTN saja kan ? tetapi juga berari memberi peluang kepada masyarakat untuk menyelenggaraken lembaga pendidikan.

Semoga langkah-langkah yang diambil oleh PTN-PTN di Malang juga diikuti oleh PTN-PTN di laen tempat.

Tuesday, March 11, 2008

Memang,Untuk Menjadi Bodoh Itu Mahal

Mas Guru tersenyum kecut ketika membaca salah satu blog yang ada artkel berjudul Mau Bodoh Kok Bayar. Kalau dipikir-pikir, bener juga ya. Murid-murid kita bayar mahal sekadar untuk menjadi orang bodoh. Meski Undang-Undang Dasar kita mengamanatken bahwa tanggung-jawab pendidikan berada di pundak pemerintah, itu bukan berarti pendidikan bisa gratis di negeri ini. Meskipun itu sekolah-sekolah milik pemerintah. Malah, tak jarang sekolah negara tersebut taripnya lebih mahal dari sekolah partikelir. Saya juga ndak ngerti bagaimana sekolah negeri yang banyak mendapat dana dari pemerintah, terutama untuk gaji gurunya bisa lebih mahal dari sekolah partikelir. Mungkin saja memang dibutuhken manajer yang canggih untuk bisa berhitung seperti. Otak Mas Guru yang ndeso jelas ndak nutut diajak mikir manajemen.
Mengenai ihwal kebodohan yan diakibatken oleh model persekolahan kita, bisa dijelaskanken begini. Menurut para pakar, yang tak satu pun Mas Guru kenal, pendidikan mesti memenuhi setidaknya dua tujuan. Pertama, mengembangkan potensi-potensi yang dipunyai murid sesuai dengan bakat, minat dan tujuan-tujuan hidupnya. Kedua, membekali murid dengan berbagai hal untuk menyesuaiken diri dengan tuntutan lingkungan. Yang termasuk tujuan ini misalnya, memberi berbagai ketrampilan buat bekerja di dunia kerja; menanamken nilai-nilai dan moralitas untuk hidup di masyarakat; menyenangken hati guru, kepala diknas sampai menteri pendidikan dan laen-laen.
Sekolah kita tampaknya lebih mengutamaken tujuan ke dua bagian terakhir itu. Coba saja liat, murid dikataken pinter jika pandai menjadi beo. Dalam arti, mereka mendapat gelar pandai jika pandai meniru apa yang dikataken guru. Semakin persis jawaban yang mereka beriken dengan omongan guru, termasuk titik komanya, ketika dites oleh guru, maka dia dikataken semakin pinter. Kalo ndak bisa jadi beo, jangan pernah mengharap pridkat sebagai murid pinter.
Fenomena pembodohan semakin tampak menjelang unas kayak bulan-bulan ini. Bayangken, murid-murid kelas tiga , khususon kelas 3 SMA atau SMK, mestinya harus dipenuhi dengan bekal untuk hidup di tengah masyarakat atau bekal untuk terjun di dunia kerja. Tapi apa yang terjadi ?
Mereka setiap detik diperas otak dan waktunya untuk persiapan mengikuti proyek nasional yang bernama unas itu. Mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus, ndak peduli. Pokoknya harus mempersiapken diri untuk sukses di unas. Anak-anak dari keluarga mampu diikutken bimbingan belajar. Anak-anak keluarga santri sudah jauh-jauh hari dimintken barokah Pak Kiyai. Yang ndak mampu, cukup mengikuti les tambahan yang diadaken oleh sekolah. Perlu dicatat bahwa untuk les yang diadaken sekolah ini, orangtua murid diwajibken membayar biaya tambahan yang jumlahnya juga ndak kecil.
Nah, setelah mengikuti unas, yangndak lulus, dengan bebagai cara, toh akhirnya juga bisa dilulusken. Dan yang lulus, ada yang melanjutken sekolah ( bagi yang ortunya cukup duit ), ada pula yang langsung kerja atawa menjadi pengangguran ( bagi yang ortunya bokek). Untuk ngeliat bahwa sekolah kita lebih banyak menghasilken manusia-manusia bodoh, bisa diketahui dari lulusan yang ndak melanjutken ini.
Selepas sekolah, mereka ini riwa-riwi kesana kemari sembari menenteng map berisi lamaran kerja. di tempat yang dituju, mereka dites. Apa yang diteskan di tempat itu ternyata sama sekali tidak bersangkut dengan materi-materi yang dipersiapken menjelang unas. Jadi, setahun berada di kelas tiga hanya untuk kegiatan tiga hari ( waktu pelaksanaan unas). Setelah itu, ndak ada manfaat.
Yang sial adalah yang kebetulan ndak bisa diterima kerja dimana-mana. Karena ndak ada bekal dari sekolah untuk hidup mandiri, mereka jadi pengangguran. Mau berwiraswasta merasa ndak bakat, mau kerja serabutan gengsi, mau maling takut ketangkep polisi dan mau ngamen malu, mereka lebih suka plonga-plongo di pinggir jalan, menunggu barangkali ada ratu adil lewat, menyulap hidupnya jadi konglomerat.

Monday, March 10, 2008

Kapan Internet Murah Untuk Guru ?

Untuk urusan teknologi informasi, sebagian guru SMP di Surabaya dinilai masih terbelakang. Data dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA/IPS SMP se-Surabaya, sekitar 80 persen guru di antara 1.400 anggota masih belum paham internet. Karena itu, seharusnya para guru terus dipacu untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi tersebut.
Pengetahuan para guru di bidang teknologi informasi masih kalah jauh dibandingkan dengan murid. Perbandingannya cukup tajam. Tiap seratus guru, hanya 20 orang yang bisa menggali sumber belajar dari internet. Setiap seratus siswa, sekitar 90 anak bisa mengoperasikan internet. "Mereka juga biasa mencari sumber belajar di sana," ungkap Bambang, ketua MGMP IPA/IPS SMP Surabaya. ( Jawa Pos, 9 Maret 2008 ).

Bila boleh jujur ( yang ngelarang ya siapa ? ), internet masih tergolong barang mewah bagi guru, terutama guru partikelir seperti mas Guru. Pembaca tentu bisa mbayangken, kalau guru-guru di Surabaya saj cuman 20%, apalagi guru-guru di daerah ? Ini tentu sangat memprihatinken. Bayangken ! Kalau suatu saat ada murid yang bertanya tentang pengetahuan baru yang didapet dari dunia maya kepada gurunya yang ndak pernah mbuka internet, apa kira-kira yang terjadi ? Gurunya pasti plonga-plongo, pah-poh. Lebih parah lagi, kalau yang ditanyaken murid pas info dari situs-situs ndak genah, dan gurunya cuma pah-poh, murid pasti bertanya pada temennya yang juga ndak paham info ndak genah tadi. Lalu bagaimana jadinya dengan murid ini ?
Di artikel sebelumnya, “Pedang Itu Menghasilkan Pornografi” temen mas guru bilang bahwa salah satu sebab maraknya maenan pornografi di dunia maya dikarenaken gurunya ndak ngerti internet. Akibatnya, guru ndak bisa memberi wawasan kepada murid bagaimana memanfaatken internet untuk tujuan positip.
Dari situ tampaknya harus mulai dipikirken bagaimana guru-guru dibikin familier dengan internet. Tentu ini bukan hal sulit jika para penguasa ( kepala sekolah, kepala diknas sampai menteri ) mau sedikit berpikir soal ini. Kepala bisa saja menyisihken sedikit uang komite sekolah buat langganan internet paket unlimited untuk sekolah. Kemudian pasang hotspot supaya bisa diakses dari jarak agak jauh dari sekolah. Sehingga guru yang belum mampu beli komputer, bisa akses internet di sekolah. Yang sudah punya komputer, tinggal beli anten wajan bolic supaya bisa akses dari rumahnya masing-masing. Memang kalau cuma satu sekolah yang pasang hotspot, tentu nggak begitu manfaat. Guru yang jauh dari sekolah tersebut juga ndak bisa ngakses. Tapi kalau semua sekolah, khususnya sekolah negeri, semua punya hotspot, tentu pancaran frekuensi internet akan sangat luas di suatu daerah. Nah, ini kan bisa dimanfaatken oleh guru dan masyarakat umum.
Mungkin ide ini kedengaran mbulet dan ndak menguntungkan provider. Kalau ndak cocok dengan ide ini, mbok ya Cak Nuh ( Menkominfo ) memerintahken kepada kepala telkom untuk memberi harga khusus buat para guru untuk berlangganan internet. Bukankah untuk murid ada diskon 50% bila berlangganan internet di speedy ?
Barangkali kalau guru-guru pada usul kepada Cak Nuh untuk memberi diskon berlangganan internet, pasti beliau ndak keberatan. Pasalnya, selain beliau ini mantan guru, juga merupakan mentri paling cerdas di kabinet sekarang. Bayangkan, kalau mentri-mentri laen pada ndak berdaya menghadapi kenaekan harga-harga, termasuk mentri yang ngurusin listrik negara, Cak Nuh malah bisa menurunkan tarip telpon dan internet. Padahal kebutuhan orang akan telpon dan internet terus naek. Mungkin mentri-mentri laen perlu belajar pada Cak Nuh, supaya ketularan cerdas.
Dengan track record beliau, yang sangat memperhatiken kepentingan bangsa, marilah para guru usul kepada Cak Nuh supaya diberi harga berlangganan internet khusus. Cuma masalahnya, apakah sebagian besar guru-guru kita merasa butuh internet apa ndak ? Kalau mereka merasa ndak berlangganan internet ya nggak patheken, ini yang payah.

Saturday, March 8, 2008

Pedang itu Menghasilkan Pornografi

Rabu lalu, 5 Maret 2008, di SMAN 3 Bandung diadaken acara talkshow bertajuk "Sex, Digital Camera, and 3GP Video". Hadir sebagai pembicara, praktisi, dan pakar teknologi informasi Heru Nugroho dan psikolog Yuli Suliswidiawati. ( Pikiran Rakyat, 8 Maret 2008 ).

Heru menuturken, sekarang ini adegan porno yang dilakuken oleh siswa usia sekolah menengah, kian marak di berbagai situs internet. Ini menjadi tantangan bagi para guru untuk mencegah agar murid-murid mereka tidak ikut terjerumus ke dalem kegiatan yang melanggar norma kesusilaan dan agama tersebut.

Memang, kata para pakar, tehnologi itu ibarat pedang bermata dua. Satu mata membawa manfaat dan mata yang laen membawa mudhlarat. Begitu juga dengan internet. Mata kiri membawa manfaat, karena dari situ kita orang bisa beroleh berbagai pengetahuan yang kita butuhken dengan relatip murah. Di mata kanan membawa petaka, salah satu contohnya dari sana kita bisa dapet pilm atau gambar bule-bule telanjang. Dan malangnya, adegan berbugil ria ini ditiru oleh remaja-remaja kita yang kemedan sama budaya bule tadi.

Kita para orangtua, guru atawa tokoh masyarakat sangat terlambat mengantisipasi hal ini. Jadinya, ya itu tadi, anak-anak muda kita suka menunjukken auradnya di berbagai situs di internet, baik yang dipertontonkan secara gratis maupun berbayar.

Kini kita bingung mencari obat mujarab untuk menangkalnya. Ada yang usul, pelajaran agama di sekolah ditambah biar murid tambah semlengeren, soalnya jam pelajaran kita sudah top banyaknya. Ada lagi yang bilang, para orangtua harus mulai lebih terbuka mendiskusikan masalah sex dengan anak-anak, dan masih banyak lagi usul-usul yang laen.

Menurut Mas Guru, menambah jam pelajaran agama, jika modelnya pelajaran tersebut masih kayak yang dilakuken kebanyakan guru-guru agama pada ini hari, ya percuma. Soalnya terlalu teoritis dan banyak menenkanken hapalan. Kurang ada nilai-nilai yang dibangun.

Kemudian, mengenai keterbukaan orangtua berbicara soal sex kepada anak, kok rasanya juga kurang ngefek. Orang-orang barat sana kurang terbuka apa kepada anaknya ? Tapi, kebejatan di bidang sexual justru dari sana banyak bermula.

Di muka telah kita kutip omongan pakar kalau tehnologi itu kayak pedang bermata dua. Nah, sekarang ini yang paling banyak peranannya adalah satu sisi, yakni mata yang banyak membawa kemudhlorotan. Sedang sisi atau mata yang laennya masih kurang diaktifken. Jadinya, ya remaja-remaja kita suka berporno-ria di dunia maya. Persoalnnya sekarang adalah bagaimana caranya agar sisi negatif dari dunia IT itu tidak terlalu banyak berperan, dan justru sisi positifnya yang bermaen ?

Kata teman mas guru, Mas Kamas, kalau saja anak-anak muda itu memahami manfaat positip dari dunia internet, pasti mereka akan gandrung memanfaatkennya untuk tujuan positip, kayak mencari pengetahuan, aktualisasi diri atau bahkan mencari duit ( asal ndak nipu ) melalui internet. Tapi sayangnya, manfaat ini kurang diinformasiken oleh guru maupun orangtua kepada mereka. Yang mereka dapet dari temen sebaya justru bagaimana memanfaatken internet untuk memuasken kebutuhan syahwat. Karena itu, kita ndak perlu heran kalau mereka akhirnya suka berpesta syahwat via internet.

Nah, kata mas Kamas, supaya guru dan orangtua bisa kasih saran memanfaatken internet untuk tujuan-tujuan postip kepada anak-anak muda, ya mereka terlebih dulu harus belajar nggethu mengenai dunia internet ini. Jika kita para orangtua ndak bisa menjadi tempat bertanya anak-anak, mereka pasti akan bertanya di laen tempat. Iya To ????



Thursday, February 28, 2008

Haruskah Kita Memproklamirkan Kemerdekaan Yang Kedua ?

Dewan Pakar Dekopinwil Jatim Prof Nirbito mengingatkan bahwa terus tumbuhnya ritel milik jaringan bisnis internasional tak hanya mengancam pasar tradisional dan toko-toko kecil. Toko swalayan yang mulai masuk kampung-kampung diidentifikasi mengancam eksistensi usaha pertokoan milik koperasi di Kota Malang.

Ancaman itu muncul karena penetrasi pasar mereka sangat tajam. Selain itu, harga dan bonus yang mereka tawarkan cukup menggiurkan masyarakat. "Apalagi posisi mereka kini lebih dekat kepada konsumen rumah tangga. Cukup membahayakan," ungkap Nirbito.( Radar Malang, 28 Feb 2008 ).

Ini menunjukkan bahwa meski kemerdekaan repiblik ini telah diproklamirken sejak 1945, tapi hakikatnya kita ini masih dijajah. Mai kita coba bikin perbandingan antara apa yang dilakuken penjajah zaman dulu dan penjajah zaman sekarang.

Menurut kakek buyut Mas Guru, dulu itu penjajah menjajah negara kita untuk mengambil berbagai hasil yang keluar dari bumi kita, mencari tenaga kerja dari pribumi yang konon bodoh-bodoh sehingga harganya murah dan menjadikan negara kita sebagai pasar bagi barang-barang produk mereka.

Saat ini, negara-negara maju kan berperilaku sama. Mereka 'memaksa' pemerintah kita untuk menjual hampir semua sumber alam kita. Akibatnya, meski kita dikataken negera gemah ripah loh jinawi, tapi kita ndak ikut mengelola. Kita cuma dapat sedekah mereka, berupa bagi hasil yang ndak memadai. Lebih monyong lagi, tidak hanyak sumber daya alam yang dijual, BUMN pun, termasuk yang dikategorikan menguasai hajat hidup orang banyak, juga turut dilelang.

Yang kedua, mengenai tenaga kerja. Coba saja bandingken gaji tenaga kerja kita dengan ekspatriat yang bekerja di bumi Indonesia ini. Bule-bule itu gajinya bisa puluhan kali lipat dibandingken dengan gaji tenaga kerja kita, meski untuk jabatan yang relatif sama. Bahkan untuk pemaen sepak bola pun, pemaen kita mendapat gaji lebih kecil dari pemaen asing, baik yang berkulit bule maupun berkulit lainnya.

Yang ketiga, mengenai pasar. Dengan penuh ndak percaya diri dan ndak berdaya, pemerintah kita membiarken pemaen-pemaen asing berduel dengan pemaen dalem negeri dengan bebasnya. Hampir tidak ada proteksi bagi pemaen lokal ( baik di bidang perdagangan, pertanian, pengolahan dan laennya ). Karena pemaen-pemaen kita itu kalah modal, kalah pengalaman, kalah pinter dan kalah yang laennya, ya otomatis satu per satu pada tersungkur alais pada ndlosor. ( Ini terkecuali untuk pengusaha-pengusaha kayak Aburzal Bakri dan anak-anak mbah Harto yang jumlahnya cuma segelintir ).

Jika kondisi begini terus dibiarken,kira-kira jadi apa ya bangsa kita ? Apa ya kita ini memang ditakdirken jadi bangsa cecunguk ya ? Kok dari ratusan tahu lalu nasibnya ndak baek-baek ?